Kamis, 27 Oktober 2016

Merasa terlalu glamor dengan make up tebal? Ingin tampil natural? Ini tipsnya…



Make  up merupakan alat kecantikan yang selalu dibawa oleh para wanita ke mana pun. Pemakaian make up akan membuat wanita lebih percaya diri dalam melakukan aktivitasnya. Sebagian wanita berpendapat bahwa make up dapat mengubah penampilan mereka menjadi jauh lebih cantik dibanding tidak memakai make up. Cara memakai make up sangat mudah, baik cara make up natural ataupun cara make up glamor tergantung bagaimana kita bisa memakainya dengan tepat dan benar. Serta tergantung juga dengan kondisinya di mana kita berada.

Cara make up natural

1.       Bersihkan kulit wajah Anda sebelum memakai make up. Baik dengan air, sabun pencuci wajah, atau pembersih (penyegar) untuk mengangkat debu kotoran yang menempel pada wajah. Lalu pakailah pelembab di wajah, agar kulit wajah Anda tidak kering.
2.       Oleskan foundation yang sesuai dengan warna kulit Anda.
3.       Pilihlah spons bedak yang halus agar ketika memakai bedak bisa merata dengan sempurna.
4.       Setelah memakai bedak dengan merata sempurna, kemudian pakailah eye shadow dengan warna yang natural. Untuk kulit putih silakan pakai eye shadow dengan warna terang. Untuk kulit tidak terlalu putih, namun juga tidak terlalu gelap silakan pakai eye shadow dengan warna yang matte agar terlihat eksotis. Untuk kulit yang terlihat sedikit gelap silakan pakai eye shadow dengan warna yang gelap, namun tetap terlihat segar dan bercahaya.
5.       Setelah itu, gunakan pensil alis agar pemakaian make up terlihat lebih hidup. Gunakan pensil alis tersebut dengan memulainya dari ujung alis sampai bagian lancip akhir alis.
6.       Gunakan eyeliner yang dapat membantu memperindah serta menarik kelopak alis. Eyeliner bisa menggunakannya dengan bentuk pensil maupun bentuk cair.
7.       Gunakan penjepit bulu mata sebelum memakai maskara. Lalu pakailah maskara agar pemakaian make up di sekitar mata terlihat lebih hidup.
8.       Pakailah lipstik dengan warna yang natural, misalnya warna yang tidak terlalu terang yang warnanya hampir sama dengan bibir.
9.       Terakhir pakailah blush on dengan warna yang natural, misalnya warna pink atau peach agar terlihat semakin menarik dengan make up naturalnya.

Selamat Mencoba!

Kenali Lingkungan Kampus Tercinta



Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) salah satu kampus terfavorit karena letaknya yang berdekatan dengan kampus terfavorit juga yaitu Universitas Indonesia (UI). Kampus yang terletak di Depok, Jawa Barat ini, banyak menarik para siswa di seluruh Indonesia agar bisa masuk kampus tersebut.

Saat memasukinya, di sepanjang jalan tentunya banyak ditemukan pohon-pohon yang rindang serta udara yang sejuk karena memang letaknya masih dekat kawasan Bogor. Tak hanya itu, Banyak juga Bus Politeknik (Bipol) yang berlalu lalang memasuki kampus dan mengangkut mahasiswanya.

“Tiap pagi, saya wajib naik bipol seusai turun di stasiun UI karena lebih hemat biaya soalnya kan gratis dari pada harus naik ojek. Makanya saya berangkat pagi dari rumah supaya bisa kebagian bus ini dan enggak telat masuk ke kelas,” ujar Rachel, mahasiswa tingkat akhir Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan itu.

Selain bus, ada juga sepeda yang disediakan bagi mahasiswa kampus. Namun, banyak juga yang menggunakan motor atau mobil pribadi untuk akses menuju kampus.

Memasuki kawasan kampus yang bebas asap rokok ini, terlihat gedung tinggi dari berbagai jurusan yang ada serta tersedia lab atau bengkel di tiap jurusannya. Gedung-gedung tersebut berdiri sangat kokoh dan struktur bangunannya tertata dengan rapi yang dicat berwarna putih. 

Koridor di sepanjang jalan yang melewati tiap jurusan juga terdapat pemberitahuan informasi dari tiap UKM yang dihias warna-warni demi mempercantik area tersebut agar lebih hidup. Jalan yang berkelak-kelok mengikuti koridor itu membuat bunyi sepatu mahasiswa terdengar saat melewati gedung di tiap jurusan. Pendopo di masing-masing jurusan juga tersedia untuk sekedar berkumpul dan tertawa bersama.

Panas matahari mulai menyengat, menandakan siang hari. Gedung di tiap jurusan mendadak sepi dan tak banyak orang berlalu lalang. Ternyata, semua berpusat di kantin yang ada di kampus tersebut. 

Ya, PNJ memiliki 3 kantin sekaligus untuk menampung banyaknya mahasiswa tiap siang hari. Kantin yang memiliki berpuluh kursi dan meja tersebut dimanfaatkan para mahasiswa untuk mengisi kosongnya perut di tengah teriknya matahari. Tak butuh banyak kipas angin karena letaknya outdoor dikelilingi oleh pepohonann hijau dan angin yang menyerang terasa begitu menambah keasyikan pada saat makan dan berbincang-bincang.

Begitu banyak fasilitas yang disediakan selain bus dan sepeda, juga terdapat Gedung Serba Guna (GSG) dan Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa). Dua tempat inilah seluruh mahasiswa menggunakannya untuk sekedar acara seminar dan tempat berkumpulnya seluruh UKM yang ada di kampus ini.

Ketika Sang Merpati Merelakan



Pagi pun tiba, Riris terbangun dari tidurnya dan langsung bersiap-siap untuk mandi dan pergi ke sekolahnya. Saat tiba di sekolahnya dan berjalan menuju koridor sekolah, dia bertemu dengan Rendy, sahabatnya. Mereka pun sama-sama menghampiri untuk sekedar menyapa. Lalu, Rendy pun mengawalinya.

“Hai Ris, tumben datang pagi-pagi, hahaha,” ujar Rendy yang sedang mencoba meledeki Riris.
“Iya nih Ren, biasa, kadang-kadang suka kepagian kadang juga kesiangan, jangan ngeledek deh,” jawab Riris. Rendy pun hanya tertawa-tawa.

            Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba bel masuk berbunyi. Teeetttttttt.... teeetttttttt...... lalu mereka pun berlari menuju kelas.

            Pada saat pelajaran dimulai, Rendy yang sejak dulu mengagumi Riris, terus memandangi gadis impiannya yang duduk di sebelah mejanya itu tanpa berkedip. Dengan senyuman manisnya ia memandang Riris. Tak sadar jika pelajaran sedang berlangsung, ia pun ditegur oleh Pak Arman.

“Rendy!!!!!!!!! Kamu sedang senyum-senyum dengan siapa?” ujar Pak Arman.
“A..... A.... Anu Pak, enggak kok enggak. Saya lagi merhatiin pelajaran bapak,” jawab Rendy.
“Oh jadi pelajaran saya itu lucu, begitu?! Mau kamu jadikan bahan tertawaan?!!!!” ujar Pak Arman lagi dengan nada sedikit marah.
“Enggak Pak, bukan begitu maksud saya. Maaf Pak, enggak akan saya ulangi lagi Pak,” jawab Rendy dengan raut muka memelas. Rendy berkata dalam hatinya, “Aduh, salah lagi dah gue.”

            Ketika Pak Arman mengeluarkan amarahnya, semua murid pun melihat ke arah Rendy. Begitu juga dengan Riris. Namun, saat Pak Arman keluar dari kelas, Riris segera melirik Rendy lagi dan justru menertawakannya.

“Apa lo Ris, senang lihat gue dimarahi Pak Arman?” ujar Rendy.
“Hahaha, lagian sih lo Ren, aneh deh, masa pelajaran Pak Arman lo senyam-seyum,” jawab Riris sambil tertawa.
“Bukan begitu maksud gue Ris. Gue tuh tadi lagi lihat burung-burung yang lagi pada terbang di luar. Lucu pada berbaris gitu,” jawab Rendy lagi dengan cara ngelesnya.
“Ah udah deh, makin ngaco aja sih lo Ren, hahaha. Eh, mending lo temenin gue makan di kantin,” ujar Riris.
“Oohhhh, ceritanya lo lagi kode biar gue yang bayarin lo makan, gitu?” ujar Rendy.
“Eh, enak aja lo. Emang lo fikir gue enggak punya uang? Terlalu peka sih lo jadi orang,” jawab Riris dengan nada kesal.
“Cieeeeee.... ngambek nih yeee,” ledek Rendy.
“Rendy!!!!!!!!” ujar Riris yang sambil berlari mengejar Rendy.

            Sesampainya di kantin, Rendy sudah duduk dan sedang menunggu kedatangan Riris. Lalu Riris menghampirinya dan duduk di hadapan Rendy.

“Aduh capek gue ngejar lo. Lari lo cepat sekali Ren,” ujar Riris.
“Udah-udah. Istirahat dulu, duduk dulu, tarik nafas lalu buang dulu, hahaha,” jawab Rendy si tukang ngeledek.
“Gue yang pesan deh, lo mau makan apa?” ujar Rendy lagi.
“Gue pesan makanan dan minuman yang sering gue pesan deh Ren,” jawab Riris.
“Okedeh, siap Tuan Putri, sebentar ya,” jawab Rendy sambil bernada meledek lagi.

            Saat sedang menunggu Rendy memesan makanan serta minuman yang dipesan oleh mereka. Kemudian, Sinta datang menghampiri Riris dan bergabung bersama mereka.

“Hey Ris, sendirian aja,” ujar Sinta.
“Enggak Sin, gue lagi nunggu Rendy pesan makanan,” jawab Riris.
“Oh, gue fikir lo sendiri. Kalo gitu gue pindah tempat aja ya ke meja sebelah sana,” ujar Sinta sambil menunjuk meja yang kosong.
“Ehhh, jangan Sin. Sini aja gabung bareng gue dan Rendy,” jawab Riris.
“Iya jangan Sin. Gabung bareng kita aja,” imbuh Rendy yang baru datang dan sedang meletakkan makanan dan minuman mereka.
“Tuh, Rendy juga enggak keberatan kok kalau lo ikut gabung Sin,” imbuh Riris lagi.
“Aduh gue jadi enggak enak nih ganggu kalian, maaf ya,” ujar Sinta.
“Loh kok minta maaf Sin? Kita semua kan teman dan enggak ada yang salah kok, ya walaupun beda kelas,” jawab Riris. Lalu, Sinta tersenyum.

Ya, memang Sinta teman Riris dan Rendy. Mereka bertemu saat perkenalan siswa baru dan pada saat Masa Orientasi Siswa (MOS). Namun, saat MOS itu berakhir, kemudian mereka terpisah. Rendy bersama Riris disatukan dalam kelas A dan Sinta berada dalam kelas B.
Saat sudah selesai makan, mereka pun tertawa sambil membicarakan apa saja yang ada dalam fikirannya. Namun, Sinta merasa iri terhadap Riris yang bisa begitu dekat degan Rendy, cowok yang dikaguminya sejak awal masuk sekolah. Asyiknya mengobrol sampai mereka lupa bahwa bel istirahat telah berbunyi dan menandakan mereka harus masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
Seusai pulang sekolah, Sinta berjalan menghampiri Riris yang sedang duduk menunggu abang Go-Jek pesanannya.

“Ris, belum pulang?” ujar Sinta.
“Belum nih, lagi nunggu jemputan. Lo sendiri enggak pulang?” jawab Riris.
“Gue lagi bawa motor nih, kebetulan. Bareng gue aja yuk Ris,” Sinta menawarkan.
“Enggak usah Sin, gue lagi nunggu abang Go-Jek nih hehe kasihan kalau gue cancel,” jawab Riris lagi.
“Oke kalau gitu. Oh ya, nanti sore lo ada di rumah Ris?” tanya Sinta.
“Ada kok Sin, main aja ke rumah,” balas Riris.

            Ketika mereka masih asyik ingin melanjutkan obrolannya, tiba-tiba...... abang Go-Jek pun datang. Lalu Riris pamit dan melambaikan tangannya ke arah Sinta.
            Jam dinding menunjukkan angka 16.00 sore. Seperti obrolan tadi siang bersama Riris, Sinta pun segera bersiap menuju rumah Riris yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Sekitar 15 menit waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke sana.

            Bel rumah berbunyi nyaring. Ting... tong.... Riris sudah mengetahui siapa yang datang ke rumahnya dan langsung membukakan pintu.

“Hai... Sin.... Masuk sini,” sapa Riris.
“Assalamualaikum....” ujar Sinta
“Waalaikumsalam.....” balas Riris
“Silakan kuenya dimakan Sin, ini minumnya ya,” ujar Riris sambil menggeser minuman ke arah Sinta.
“Ya, Ris. Ih gue jadi ngerepotin nih,” ujar Sinta.
“Udah seharusnya kok tamu disuguh makanan, hehehe,’ jawab Riris tersenyum.
“Eh iya, pasti lo mau curhat ya?” imbuh Riris sambil nyengar-nyengir.
“Hehehe kok lo tau sih Ris,” jawab Sinta tersipu malu.
“Iya kan lo miss curhat. Mau curhat tentang siapa sih?” tanya Riris menggoda.
“Hmmm... Kok lo bisa sedekat itu sih sama Rendy?” ujar Sinta.
“Oooooo... Jadi lo suka sama Rendy, Sin?” tanya Riris sambil tertawa.
“Eng... Enggak. Bukan gitu Ris, gue kan Cuma tanya,” jawab Sinta penuh malu.
“Udah. Jujur aja Sin. Mau gue comblangin nih?” ujar Riris.
“Ah Riris bisa aja deh,” jawab Sinta.
“Serius gue. Sin, gue itu sama Rendy sahabat banget lah jadi Rendy pasti mau kok,” ujar Riris lagi.

            Tanpa menjawab lagi, Riris pun sudah bertekad ingin mendekatkan Sinta dengan Rendy. Lalu, Sinta hanya bisa terdiam dan mendengarkan ocehan temannya yang bawel itu.
            Keesokan paginya, saat jam istirahat di dalam kelas, Rendy menghampiri Riris yang sedang sibuk dengan catatan pelajaran yang sudah tertinggal jauh. Lalu Rendy pun menggoda dan mengajaknya makan di kantin. Namun, Riris menolaknya karena banyak catatan yang harus ia selesaikan.
            Saat Rendy berada di sebelahnya, Riris menceritakan semua obrolannya dengan Sinta kemarin sore di rumahnya. Alangkah terkejutnya Rendy mendengar bahwa ia akan didekatkan dengan Sinta.

“Ah yang benar aja lo, Ris. Masa gue dekat sama dia,” ujar Rendy kesal.
“Ren, enggak ada salahnya kan lo dekat sama dia? Kalian kan sama-sama jomblo dan kita semua teman kok, apalagi lo sahabat gue banget Ren, sampai kapan pun gue anggep lo itu sahabat,” jawab Riris.
            Mendegar jawaban Riris, Rendy pun merasa patah hati. Ternyata selama ini, Riris hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat sampai kapan pun. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Riris bahwa enggak ada salahnya juga kalau Rendy mencoba mendekati Sinta.
            Setelah tiga bulan masa pendekatan, akhirnya mereka resmi berpacaran. Berita itu pun sampai juga ke telinga Riris. Namun, Riris merasa sedih, karena waktu Rendy untuknya yang sebagai sahabat kini harus rela dibagi untuk kekasihnya. Tak mengapa baginya, ia merasa lega ternyata usahanya untuk mendekatkan mereka tak sia-sia.

Senin, 19 September 2016

Andaikan Aku Jurnalis Andal



Ketika melihat banyak jurnalis di televisi, aku langsung membayangkan jika aku menjadi seorang reporter televisi. Sebenarnya ini bukan cita-citaku yang sesungguhnya. Namun, hal itu terwujud ketika aku masuk dalam perkuliahan dunia jurnalistik. Saat aku memasuki apa itu jurnalistik ternyata banyak ilmu yang aku dapat dari sana. Bagiku, jurnalistik sangat luas dan bermacam-macam bagian dalam hal jurnalistik itu sendiri.
Bagian paling dasar dari jurnalistik adalah menulis. Mungkin bagi sebagian orang pekerjaan menjadi seorang penulis itu tak begitu spesial di mata yang lain bahkan ada yang sering merendahkan pula. Namun, menurutku pekerjaan sebagai seorang penulis itu menyenangkan. Kenapa menyenangkan? Karena aku bisa mengekspresikan kebahagiaan serta kesedihanku melalui tulisan. Ketika aku menulis pun ada rasa yang membuat hati puas dan tenang karena sudah terluapkan ke dalam tulisan.
Saat menulis seperti terasah, aku pun ingin menjadi seorang reporter televisi yang bisa menulis dengan baik kemudian melaporkan kejadian apa yang dilihat, tentunya berdasarkan fakta. Hal lain yang bisa membanggakan dari seorang jurnalis televisi adalah bisa mewawancarai narasumber atau bertemu dengan orang-orang yang hebat. Serta masuk televisi dan ditonton oleh jutaan bahkan mungkin ribuan orang.
Menurut www.jurnalrozak.web.id seorang anchor (pembawa berita) dan reporter di layar kaca dapat mempengaruhi persepsi dan penerimaan pemirsa televisi. Anchor yang tampak memiliki integritas dan kecerdasan mampu menghipnotis pemirsa untuk menyaksikan tayangan berita. Penampilan anchor yang santai, bersahabat dan komunikatif mampu mengajak pemirsa untuk lebih antusias megikuti tayangan berita.
Tidak hanya hal yang membanggakan menjadi seorang jurnalis televisi, aku paham betul jika pekerjaan seorang jurnalis tidaklah mudah. Banyak rintangan atau kendala saat ingin mencari berita maupun menuliskannya. Tak hanya itu, saat banyak orang yang merendahkan seorang jurnalis, jurnalis pun harus tetap mempertahankan dirinya serta tulisannya yang baik agar citranya tak dipandang sebelah mata.
Jika ditanya, kenapa aku ingin menjadi seorang reporter televisi? Maka jawabanku, aku ingin mencari berita yang belum diketahui orang lain, menelusuri berbagai kasus, dan menguak rahasia-rahasia yang belum terungkap.